Wednesday, April 05, 2017

Saatnya SI Kecil 'Al Yuzarsif' Belajar Eksplorasi

Hmmm ... meskipun anak sudah enam, tetapi sifat protektif saya sebagai seorang bunda tetap saja ada. Termasuk ketika harus mengasuh si bungsu Al Yuzarsif. Walaupun saya sudah mengingatkan diri sendiri dan mencoba menguatkan hati bahwa Al adalah anak laki-laki yang harus lebih berani dan mandiri, tetapi rasanya dag dig dug ser saat melihat dia belajar berjalan, naik turun tempat tidur, keluar masuk kamar, dan seterusnya. Juga, hati ini sudah deg deg deg saat melihat dia keluar dari pintu rumah dan bermain di teras rumah. Hmmm .... protektif banget kan. 

Hal ini sangat berbeda dengan my hubby yang kadang membiarkan Al untuk bermain di teras rumah meskipun harus berakhir dengan kaki kotor, baju otor dan basah. Atau, membiarkannya bermain air yang dialirkan dari keran di depan rumah. Kalau sudah begitu, biasanya saya yang cerewet dan segera mengambil dan membersihkannya. Pastinya sambil ‘menggumam’ dengan pikiran yang bermacam-macam. Takut kena gatal-gatal lah, takut kena demam lah, batuk lah, flu lah, dan sebagainya. 

Katakan IYA BOLEH pada si Kecil
Hingga akhirnya, saya di’slentik’ sama my hubby saat menghadiri acara Dancow Explore Your World yang mengkampanyekan pengasuhan dengan berkata IYA BOLEH bagi si kecil. Huuuh, 1-0 ini buat my hubby. Ternyata saya harus benar-benar mendidik hati saya dan pola pikir saya dalam pengasuhan supaya anak lebih bisa optimal dalam proses belajar ‘hidup’ bagi si kecil, sehingga si kecil akan bisa meningkatkan kemampuan kognitif, kemampuan atensi, kemampuan memori, kemampuan psikomotorik, kemampuan penyelesaian masalah, kemampuan bahasanya. 

Dalam acara Dancow Explore Your World yang diselenggarakan di Royal Plaza Surabaya pada tangggal 1 dan 2 April tersebut, selain menyajikan peluncuran produk inovasi baru DANCOW ADVANCED EXCELNUTRI+, juga menyajikan wahana bermain bagi si kecil. Melalui wahana permainan tersebut, si kecil bisa mendapatkan stimulasi untuk mendukung eskplorasinya, sehingga bisa menjadi pribadi yang tangguh secara intelektual maupun emosionalnya. Selain itu, juga dilengkapi dengan adanya konsultasi tumbuuh kembang si kecil bagi ayah dan bunda. 

Acara dibuka dengan opera yang menampilkan sebuah keluarga dengan si kecil yang rajin mengonsumsi susu pertumbuhan sehingga mampu memberi perlindungan dan kecukupan nutrisi bagi si kecil. Susu pertumbuhan yang mengandung bakteri menguntungkan lactobacillus rhamnosus yang dapat melindungi si Petualang Kecil dari serangan kuman penyakit dan memberikan sistem imun bagi tubuh si kecil. 

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan press conference yang dipandu oleh bunda Shahnaz Haque dengan para nara sumber Senior Brand manager DANCOW Advanced Excelnutri+ Nestle Indonesia, Riza Nopalas, Dokter spesialis tumbuh kembang anak DR. Dr Roedi Irawan, M.Kes SpA(K), dan bunda Ratih Ibrahim, MM. Psikolog. 

Dari apa yang disampaikan oleh para nara sumber tersebut, dapat digarisbawahi bahwa ada tiga komponen yang harus diperhatikan dalam tumbuh kembang si kecil, yaitu kecukupan nutrisi, cinta, dan stimulasi. Dan, di sini, dukungan Ayah sangat diperlukan lo, karena ternyata sehebat-hebatnya bunda, maka tetap harus ada peran ayah yang menguatkan dan mendukung bunda dalam pengasuhan si kecil, supaya si kecil tumbuh secara holistik, baik intelektual, mental, dan spiritual. 

Huft....menyimpulkan pembicaraan para nara sumber tersebut, rasanya saya seperti terlempar dari gunung ‘kekolotan’ yang selama ini menumpuk dalam sifat protektif saya terhadap si kecil. Apalagi, saat acara dilanjutkan dengan eksplorasi wahana bermain dan si kecil Al Yuzarsif, sama sekali tidak mau turun dari gendongan saya. Hmmmm .... jadinya, saya yang harus menggendong-gendong dan memperkenalkan kepada si kecil mengenai apa saja yang ada di wahana bermain. 

Beberapa wahana permainan yang sempat saya tunjukkan pada si kecil Al Yuzarsif (tentunya sambil menggendong, karena jika diturunkan dia akan mewek), di antaranya adalah CENTRAL PARK, ART CENTRE, SMART CITY, dan PLAY PARK. CENTRAL PARK merupakan wahana yang pertama kali saya perkenalkan kepada Al. Wahana ini merupakan area taman kecil yang di dalamnya ada banyak tanaman dan binatang virtual. Kemudian, saya juga berjalan ke arah SMART CITY, yang di sana anak-anak bisa bermain dan membangun kota Dancow berdasarkan. Kemudian saya beralih ke ART CENTRE yang di sana ada kegiatan hand painting buat anak-anak. Selanjutnya, ada juga PLAY PARK untuk si kecil yang sudah diklasifikasi untuk si kecil yang berusia 1+, 3+ dan 5+. 

Sesi Tanya Jawab dalam Acara Dancow Explore Your World
Dalam acara Dancow Explore Your World tersebut, juga ada acara konsultasi tumbuh kembang si kecil untuk Bunda dan Ayah. So, Bunda dan Ayah bisa kompak dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan tumbuh kembang si kecil. Karena seperti yang saya alami, ketika saya terlalu protektif pada si kecil, sementara my hubby memberi peluang bagi si kecil, maka kemungkinan akan membuat si kecil bingung pada siapa harus menurut. Saat Bunda mengatakan ‘tidak’, sementara Ayah mengatakan ‘IYA BOLEH’, maka anak akan menjadi bimbang dalam memilih yang pada akhirnya akan mempengaruhi tumbuh kembang emosi dan motoriknya. Karena itu, dengan adanya kekompakan Bunda dan Ayah dalam mengatakan IYA BOLEH, dan kapan mengatakan TIDAK, serta bagaimana cara mengatakan TIDAK secara bijaksana maka diharapkan si kecil juga akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan bijak. 

Dan info menariknya lagi, event ini tidak hanya digelar di Surabaya, tetapi juga akan dselenggarakan beberapa kota besar lainnya seperti di Jakarta, yang akan diselenggarakan pada tanggal 29-30 April 2017; di Semarang pada tanggal 5-6 Agustus 2017, dan di Solo pada tanggal 9-10 September 2017, serta di kota Makassar, pada tanggal 7-8 Oktober 2017. So, para Bunda dan Ayah di kota lain akan bisa menikmati event ini dengan si kecil.


Tuesday, March 28, 2017

Bukan Sekedar Belajar MatKul atau MatPel

Barusan ditelpon sama si kakak kedua, yang sedang kuliah di luar kota. Setelah ngobrol-ngobrol ngalor bin ngidul (aka ngobrol banyak), akhirnya obrolannya ke tugas kuliah yang mengharuskan dia wawancara dengan kepala desa. Sebenernya, kemarin sudah saya hubungkan dengan si pak Kades yang kebetulan adalah teman saya waktu di Sekolah Dasar. 

Nah, ternyata si kakak kedua ini sudah janjian dengan si pak Kades tanggal 24 Maret kemarin. Unfortuntely, si kakak pertama yang biasanya menjemput si kakak kedua ke kos-an sedang ikut my hubby ke Jakarta. So, si kakak kedua ga jadi dijemput dan diantar untuk wawancara. 

Nah, hari ini, si kakak kedua minta saya telponkan si pak Kades lagi. 
Yuppss, bukan masalah mau atau tidak, tapi si kakak kedua harus belajar bernego sendiri. Karena itu adalah bekal hidup yang harus dia punya saat menjalani kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Dia juga harus belajar bagaimana membikin janji dan etika serta apa yang harus dipenuhi saat membuat janji dengan orang lain, baik saat telat untuk memenuhi maupun saat pembatalan janji, dan bagaimana membuat janji ulang (reschedule). 

So, semua kukembalikan pada dia. 
Yaaa... walaupun dia sempat bilang minta tolong saya yang telpon ke si paj Kades, dengan dalih secara sesama teman akan lebih mudah nego waktu dan ketemuannya. Hehehe.... 
Tapiiii... Sekali lagi, dia harus belajar,  

Termasuk saat dia mengeluhkan teman satu kelompoknya yang membuat dia harus dalam dilema. It's okay. Dia sudah mahasiswa dan tugasnya bukan hanya sekedar belajar mata kuliah di kampus, tapi juga mata kuliah dalam kehidupan. Itu pula salah satu alasan yang mendasari saya memutuskan untuk kasih izin dia untuk kuliah dan kos di luar kota. Dan tidak saya taruh di keluarga kerabat. Yak, supaya dia belajar dalam kemandirian. Bukan sakedap-sakedap mendapat kemudahan karena kasihan. 

Daaaan, belajar hidup, tidak hanya disampaikan kepada si kakak kedua. Tapi juga kepada si kakak pertama, ketiga, keempat, dan kelima. Tentunya kadar pembelajarannya berbeda-beda, sesuai dengan usianya. 

Kalau si bungsuuu, si baby Al masih jadi raja inniiih ....dan dia pun harus mulai belajar bagaimana membangun persaudaraan dan persahabatan dengan si kakak-kakak yang sudah pada gedhe-gedhe.....

Friday, August 26, 2016

Perjalanan Luar Kota Saat Hamil

Kehamilan Baby Al, si bungsu yang terpaut jauh jarak lima orang kakaknya, membuat kebiasaan yang berbeda dari kehamilan sebelumnya. Jika pada kehamilan sebelumnya saya bisa lebih banyak diam di rumah, maka pada kehamilan Baby Al ini, saya harus bisa mengikuti irama perkembangan kakak-kakaknya. Bagaimana tidak, selulusnya dari Sekolah Dasar, si nomor tiga langsung masuk pondok pesantren di luar kota, sehingga kami harus 'sambang' ke pondok hampir setiap seminggu sekali. So, hampir sepanjang kehamilan Baby Al, saya dan suami harus wira-wiri ke luar kota. Alhamdulillah, berdasarkan pantauan dokter, selama kehamilan ini saya sehat dan Baby Al juga sehat. 

Tinggal di pondok pesantren dan harus jauh dari keluarga merupakan pengalaman pertama bagi putri ketiga kami. Sehingga hampir sekali dalam seminggu kami harus 'sambang'. Awalnya, kami mengambil hari Minggu untuk 'sambang' ke pesantren, supaya semua bisa ikut 'sambang'. Tetapi, ternyata sekolah si kakak ketiga ini liburnya pada hari Jumat, sehingga kami harus rela mengubah jadwal 'sambang'. Dan, kami pun melintasi rute Surabaya-Paciran di hari Jumat. 

Dari rutinitas perjalanan ini, kami jadi tahu ternyata perjalanan di hari Minggu berbeda dengan perjalanan di hari Jumat. Pada hari Minggu, jalan tol yang kami lalui cenderung lengang, karena tidak ada kendaraan besar yang lalu lalang. Kebanyakan kendaraan yang lewat adalah kendaraan pribadi. Sementara itu, pada hari Jumat, kendaraan besar yang lewat lebih banyak, sehingga walaupun lewat jalan tol. Sampai-sampai kami seolah liliput yang berada di antara raksasa yang bergerak dengan gagah. Tidak jarang kami terjebak macet saat menjelang mendekati pintu gerbang tol dan terselip di antara kendaraan yang tinggi besar. Atau jika ada kendaraan besar yang terguling, maka kami pun harus rela bermacet ria di jalan tol.

Seperti Liliput di Samping Truk Raksasa (Foto diambil di Jalan Tol, dok, pribadi)
Karena berlalu lalang bersama dengan kendaraan besar, polusi di jalan pun sangat terasa. Asap bus, kontainer, tangki, truk, mobil box besar, sangat terasa sampai ke ruang kendaraan yang kami tumpangi. Apalagi pada saat itu kami memang sering membawa si Merah. Saya sendiri merasakan bahwa ada perbedaan dalam kemampuan filter udara si Merah dengan si Hitam. Karena saat berkendara dengan si Hitam, saya tidak pernah merasakan tajamnya bau asap kendaraan lain yang lalu lalang bersama kami di jalan raya. Sedangkan saat berkendara dengan si Merah, saya bisa merasakan bau asap kendaraan lain. Dan, tidak hanya bau asap kendaraan, bau asap pabrik, bau debu jalan juga bisa saya rasakan. 

Yapps, ternyata beda produsen beda kemampuan mobil untuk menfilter udara. Polusi udara selama berkendara ini tentunya sangat berpengaruh pada kenyamanan saya yang sedang hamil. Saya harus kerap menutup hidung dengan kerudung saya, supaya tidak membau asap kendaraan dan debu yang masuk ke ruang mobil dan supaya tidak pusing dan mual. Saya pun mengalihkan bau-bauan tersebut ke arah bau minyak kayu putih yang saya torehkan langsung di kerudung saya. Pastinya hal ini tidak hanya saya rasakan, tetapi juga anak-anak saya yang duduk di jok belakang. 

Hmmm, kadang saya sampai merasa enggan untuk ikut 'sambang', tetapi saya juga ingin bertemu sama si kakak. Nah, supaya tetap bisa 'sambang' dan melalui perjalanan luar kota yang sehat dan nyaman selama hamil ini, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya adalah: 
  • Memastikan telah berkonsultasi dengan dokter bahwa kehamilan dalam kondisi sehat, baik ibu maupun baby nya.
  • Memperbanyak persediaan air putih dan mengurangi minuman berasa. Seperti yang kita tahu, air putih merupakan penetralisir zat beracun dalam tubuh. Makanya, jika sedang dalam perjalanan, saya tidak mau ada minuman berasa di samping saya dan meletakkannya di jok belakang.
  • Nyemil buah-buahan yang sengaja saya bawa dari rumah. Nyemil buah-buahan sepanjang perjalanan akan membuat mulut terasa segar dan terhindar dari mual. 
  • Tidak ikut-ikut nyemil makanan gorengan, minuman berperisa dan yang mengandung zat pemanis, serta permen. Makanan-makanan tersebut awalnya memang enak di mulut, tetapi lama-lama bisa membuat pusing. Itulah mengapa, saya menghindarinya dan beralih ke buah-buahan. 
  • Istirahat. Sebenarnya jarak tempuh kami tidak panjang. kalau perjalanan lancar, perjalanan bisa kami tempuh hanya dua setengah jam saja. Tetapi, demi kenyamanan, jika hari sudah siang, biasanya kami istirahat dulu di rest area yang tersedia di jalan tol. Selain untuk istirahat dan sholat, di sini kami juga bisa menikmati makan siang. Tetapi jika hari masih pagi, biasanya kami hanya berhenti ketika saya ingin buang air kecil saja. 
  • Pakai air filter atau filter udara untuk mobil. Filter udara ini sebenarnya sudah ada di mobil. Hanya saja, seperti yang sudah saya tulis di muka, beda produsen mobil, beda juga kemampuan filter udaranya. Si Merah yang meskipun keluaran lebih baru dibandingkan si Hitam, ternyata memiliki kemampuan yang berbeda. Si Merah kurang mampu menfilter udara dari luar, sehingga memerlukan tambahan air filter. Setahu saya, pelopor produk air filter yang cukup handal saai ini sih Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter yang merupakan satu dari produk Sakura Filter. 
Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter (Diambil dari Sini)
Dibandingkan dengan produk air filter yang lain, Sakura Bio-Guard Cabin Air Filter memiliki kelebihan dalam menyaring partikel debu sampai kurang dari 2,5 mikron, karena memiliki tiga lapis penyaring. Bio-guardnya juga mampu melindungi pengendara dari virus, dan juga bisa mencegah alergi, karena mampu mencegah alergen (pencetus alergi) sampai lebih dari 99%.

Dari hasil search di mbah Google, saya juga menemukan informasi mengenai Filter Sakura, bahwa produk air Filter yang disediakan banyak ragamnya lo. Masing-masing tipe digunakan untuk merek mobil dari produsen yang berbeda. So, si Merah dan si Hitam yang memiliki kemampuan berbeda dalam menyaring udara, harus menggunakan tipe yang berbeda pula. Lebih jelasnya, informasi mengenai Filter Sakura dan tipe-tipe berdasar jenis mobilnya bisa dilihat di SINI yaaa..... 

Nah, itu tadi pengalaman perjalanan luar kota saat saya hamil Baby Al. Alhamdulillah, meskipun diajak melalui perjalanan luar kota sepanjang masa kehamilan, si baby Al terlahir dalam kondisi sehat ddengan berat badan sangat normal (3750 gr).


Yupps... Semoga tulisan ini bisa menambah khasanah dan wawasan bagi ibu hamil lainnya yang ingin berkendara luar kota dengan sehat dan nyaman. Jadi, tulisan ini bisa menjadi alternatif informasi di antara tulisan terkait perjalanan luar kota saat hamil yang banyak dishare melalui blog dan bisa dicari melalui si mbah google.



Saturday, June 18, 2016

Persalinan Ke-Enam pada Kehamilan Usia 40-an

Benar-benar kehidupan itu dimulai pada saat kita berusia 40. Life begins at fourty. Jika pada usia 40 tahun kemarin saya mendapatkan banyak gift dari Allah dengan kejutan-kejutan seru berupa jalan-jalan gratis ke luar negeri dari lomba blog PT Telkom Indonesia, menerbitkan buku antologi dan menerbitkan buku mandiri hadiah dari lomba blog yang diselenggarakan oleh Pak Dhe Cholik dengan tema Proyek Monumental. Maka pada saat usia 41 tahun kemarin ada hadiah jalan-jalan gratis lagi ke Jakarta berdua bersama my hubby. Selama satu minggu kami di sana (pada bulan Juni 2015, pas bulan Ramadhan) di Kampus PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Tepatnya sih ke asramanya mahasiswa yang kesemuanya adalah anggota Polisi yang sedang study. 
Dan... pada tahun itu juga ada kabar yang cukup menjadi sebuah kejutan, karena di usia yang ke 41 itu, saya hamil lagi yang ke enam. Hingga akhirnya, saat usia saya 42 tahun, kelahiran putra ke enam kami pun menjadi hadiah yang sangat indah bagi kami sekeluarga.

Putra Ke-Enam Baru Keluar dari Ruang Operasi Bersama My Hubby (Pic. by Nur Muhammad)
Seperti pada kehamilan sebelum-sebelumnya, kecuali pada kehamilan pertama, saya tidak merasakan banyak gangguan pada aktivitas saya. Hanya saja pada kehamilan ke enam ini, saya merasakan kontraksi palsu lebih sering dan pada minggu ke 36 saya diminta untuk istirahat karena sudah ada tanda-tanda pembukaan 1. Dan... saya juga merasakan lebih berat di perut bagian bawah. Mungkin pengaruh usia dan pengaruh kurangnya saya bergerak (kebanyakan aktivitas saya sambil duduk di belakang meja), sehingga saya sering merasa tidak enak pada perut bagian bawah.

Namuun,.... secara umum semua baik-baik saja. Setiap konsultasi ke dokter, hasilnya selalu baik. Hasil USG selalu menunjukkan bahwa kondisi ibu dan janin sangat baik.

Hingga akhirnyaaaa ..... pada tanggal 25 April 2016 kemarin saya menjalani persalinan yang ke enam. Sebuah persalinan yang menjadi pengalaman pertama bagi saya, karena inilah persalinan satu-satunya yang harus saya jalani melalui operasi cesar (sectum cesario, sectio caesaria). 

Saya sendiri tidak ada persiapan apa-apa untuk menjalani operasi cesar ini, karena keputusan diambil pada malam hari, setelah dua hari (Sabtu dan Minggu) saya menginap di Rumah Sakit sambil menunggu persalinan normal, dan langsung diputuskan untuk operasi. Karena pada awalnya saya dan dokter yang menangani saya memang sangat optimis dengan kelahiran normal. Bayangkan saja, lima anak saya semuanya lahir dengan cara normal. Padahal mereka semua lahir dengan berat badan 4kg untuk anak pertama, kedua, dan ketiga, 3,6kg untuk anak ke empat, dan 4,2kg untuk anak kelima. Sooo ... dengan melihat histori medis saya tersebut, dokter pun dengan optimis mengarahkan saya ke persalinan normal. Karena bbj si kecil juga tidak melebihi kakak-kakaknya, yaitu hanya 3,75kg.

Daaan ... begitulah, karena pada minggu malam, tidak juga ada tanda-tanda persalinan saya rasakan, padahal sudah melampaui HPL (yang ditetapkan pada 13 April 2016), sudah diinduksi secara oral (dengan mengonsumsi Gastrul), dan juga dengan infus sampai habis dua kantung. Hingga malam itu, saat dokter pun memberi alternatif kepada saya untuk dilakukan operasi cesar saja besok pagi, karena dikhawatirkan janin mengalami stres. Juga saya sendiri sudah jenuh menunggu di rumah sakit. Dan, persiapan operasi pun dilakukan untuk dilakukan operasi cesar pada pukul 9 pagi di hari Senin. Sayangnya, karena ketidaktahuan saya, pada pagi hari saya menikmati sarapan pagi, sehingga operasi harus ditunda setelah dhuhur. So, saya harus menunggu lagi untuk masuk ke ruang operasi .

Hingga akhirnya, saatnya saya harus masuk ke ruang operasi. Dan, ini adalah pengalaman pertama saya menjalani operasi, yang merupakan operasi besar. Apalagi saya juga mendapatkan bius total (general).
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik, dan si kecil pun lahir dengan selamat, sehat, dan sempurna .....


Friday, August 28, 2015

Kami Pilih Bank Syariah, Tenang dan Aman untuk Semua

Tabungan pertama yang saya miliki adalah tabungan di bank Konvensional, karena saya membutuhkan bank untuk mentransfer uang dari akun paypal. Dimana saya tidak bisa menggunakan akun bank my hubby, karena nama di akun paypal harus sama dengan nama di akun bank di Indonesia. Setelah membuka akun bank dan mengurus kartu ATM, serta internet banking, maka saya pun punya rekening bank Konvensional. 

Tidak ada hal yang aneh selama transaksi dengan menggunakan rekening bank Konvensional. Saya menggunakan kartu ATM untuk menarik uang via mesin ATM dan belanja. Internet banking memudahkan saya untuk mengecek saldo, transaksi antar bank, dan mentransfer uang dari akun Paypal

Hingga akhirnya, secara tidak sengaja saya membuka rekening bank Syariah, karena pendaftaran dilakukan oleh pengurus komunitas olahraga yang saya ikuti bersama my hubby. Saya tidak terlalu menanggapi rekening bank Syariah saya tersebut, karena buku tabungannya juga dibawa oleh ketua komunitas. 

Setelah itu, saya merasa memerlukan untuk membuka rekening tabungan lagi yang saya maksudkan untuk mengelola keuangan pribadi saya. Maksudnya, agar saya bisa menyisihkan dana pribadi saya dan tidak terlalu boros dalam membelanjakan uang. Pilihan bank Syariah ini juga tidak sengaja, hanya karena kebetulan my hubby menggunakan layanan bank Syariah untuk mengelola keuangan bisnisnya. Bahkan seluruh karyawan beliau memiliki rekening bank Syariah untuk proses transfer gaji karyawan. 

Saya juga membukakan tabungan Syariah untuk kelima putra dan putri saya untuk mengajarkan mereka menabung. Dan memilih bank Syariah, karena merasa yakin bahwa bank Syariah akan mengelola dana mereka secara syar’i


Sekali lagi, saya tidak merasakan perbedaan apa-apa ketika membuka rekening baru di bank Syariah. Saya mendapatkan kartu ATM yang juga bisa saya gunakan untuk mengambil uang di mesin ATM dan belanja. Demikian pula dengan anak-anak. Sayangnya, rekening Bank Syariah saya ini harus saya lepas untuk dipegang bagian keuangan di kantor my hubby, untuk penempatan dana non-operasional. 

Setelah tidak memegang kartu ATM Bank Syariah, saya kembali menggunakan kartu ATM bank Konvensional untuk menarik uang di mesin ATM dan belanja. 

Hingga akhirnya, saya pun kembali membuka rekening bank Syariah untuk kebutuhan penyisihan dana non-operasional lagi dalam mendukung pengelolaan keuangan bisnis my hubby. Saya langsung membuka dua rekening untuk saya dan satu rekening untuk putri kedua saya, karena ATM dia yang pertama hilang. 

Karena putri kedua saya waktu itu belum tujuh belas tahun, maka rekening tabungannya ikut delam rekening tabungan saya. Dan ternyata, setelah pengecekan, saya telah memiliki rekening di bank Syariah tersebut. Yaitu rekening bank yang dibukakan oleh pengurus Komunitas Olahraga yang saya ikuti. 

Pelayanan pembukaan rekening bank Syariah yang ini tergolong mudah dan cepat. Apalagi pegawai banknya bersedia datang ke kantor my hubby, sehingga saya tidak perlu datang ke kantor cabang seperti saat saya membuka rekening bank konvensional yang pertama kali. 
Pada saat pembukaan rekening ini, pegawai banknya memberi penjelasan secara rinci setiap produk bank Syariah yang ditawarkan, perbedaan antarproduk, dan perbedaannya dengan produk bank konvensional. Setelah saya memilih produk tabungan yang ditawarkan, proses pengisian formulir pun dilakukan dan semua siap diproseskan oleh pegawai bank tersebut.

Tidak sampai satu minggu, semua fasilitas tabungan sudah saya terima. Tiga kartu ATM, tiga buah buku tabungan, dan fasilitas layanan internet banking dan mobile banking pun sudah saya terima. Yang kemudian menjadi berbeda dan agak mengganjal adalah, aktivasi akun rekening harus dilakukan di kantor cabang. Bersyukurnya, aktivasi bisa dilakukan oleh staf bagian keuangan my hubby, sehingga saya tidak perlu ikut ke kantor cabang. Cukup dengan mengisi formulir surat kuasa dan memasang materai 6.000 rupiah. 

Pengecekan Saldo, Mutasi, dan Transaksi Via Internet Online Bank Syariah
Namun demikian, ada hal yang agak mengganjal yaitu bahwa untuk transaksi melalui internet bankingnya tergolong agak ribet, karena harus menggunakan kode berupa angka-angka yang tidak bisa dihafal, tetapi harus dicheck list setiap kali mau transaksi dan usai transaksi. Memang, prosedur seperti itu tidak seperti pada bank Syariah lain yang menggunakan token untuk transaksi online. Sehingga tidak bisa disamaratakan bahwa semua bank Syariah memiliki prosedur yang agak rumit dalam bertransaksi. 

Oh iya, berdasarkan pengalaman, secara umum, fasilitas dan penggunaan layanan bank Syariah dan bank Konvensional itu sama. Yang membedakan, adalah pada program bagi hasil yang dibagi setiap akhir bulan. Karena saya memilih produk mudhorobah, maka saya mendapatkan sejumlah bagi hasil setiap akhir bulan dan bukan bunga seperti yang umumnya ada di bank Konvensional. 
Hal ini yang sedikit menjadikan saya tenang. Artinya melalui pengelolaan keuangan Syariah di bank, saya dan keluarga terhindar dari bunga bank. Yang artinya pula, kami sekeluarga terhindar dari riba. 

Meskipun demikian, masih juga ada yang menjadi pertanyaan yang mengganjal, apakah prinsip keuangan Syariah pada bank Syariah juga ta’awun, seperti yang seharusnya. Yaitu prinsip tolong menolong dan bantu membantu. Karena pada dasarnya praktik bank Syariah dan bank Konvensional sekilas sepertinya sama, yaitu mengumpulkan dana dari nasabah untuk selanjutnya disalurkan kepada nasabah lain yang menggunakan produk-produk bank Syariah untuk melakukan pembiayaan usaha dan lain-lain. Dimana pada praktiknya, tujuan pendirian bank Syariah, tetaplah bisnis yang berorientasi pada pencapaian profit. 

Mungkin pertanyaan yang terbersit dalam benak saya tersebut bisa jadi terbersit juga pada benak masyarakat lain. Sehingga, perbedaan antara bank Syariah dan bank Konvensional yang diketahui masyarakat masih baru sebatas pada istilah. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi yang intensif, masif, terstruktur untuk bisa memahamkan karakter Syari’ah yang melekat pada bank Syari’ah dan membedakannya dari bank konvensional. 

Namun, sekali lagi, di antara bersitan pertanyaan di benak saya, saya, anak-anak, my hubby, dan bahkan pengelolaan keuangan bisnis my hubby, telah mulai lebih banyak menggunakan pelayanan bank Syariah. Meskipun masih tetap menggunakan bank konvensional untuk menfasilitasi pelanggan yang juga masih menggunakan bank Konvensional. 

Gambar: dokumen pribadi

Wednesday, July 29, 2015

Poligami yang Selalu Ramai

Beh, lagi jalan-jalan di beranda facebook nemu friendlist yang ngeshare link lucu. Tentang peringatan seorang gadis agar para suami melakukan poligami. 
Sumber Foto: Hipwee
Ragam komentar pun bertaburan, dimana mayoritas semuanya menghujat si gadis yang bernama akun facebook Nur Aini. Rata-rata hujatan itu juga menyerang, seolah-olah si Nur Aini lah gadis yang ingin dipoligami. 

Nah, seperti ini niiiih ....
"Aku ga tau loh kalo ada perempuan seputus asa itu... Belom pernah jatuh cinta kali ya... Tega2nya minta para istri membagi suaminya Kalo dia pernah jatuh cinta, ga bakalan ngomong pengen poligami..." 
"Poligami selalu seru dibahas ya, hehehe. Kalo kk sih ngomong ke suami simpel aja, "Kamu boleh poligami berapa aja, tapi aku nggak terlibat di dalamnya. Soalnya aku jijik." 
"Si mbak Aini maunya yg udah jadi. Nggak tau dia bahwa para suami kece dulunya kayak batu akik yg baru didulang. Istrinya rajin menggosok, banting tulang ngurus rumah dan anak-anak biar karir suami nampak kinclong, penampilan juga mengkilat. Eeh...setelah kinclong, mbak Aini jadi ngeces deh..."  
"Coba kalo dia ditawari lelaki beristri yang masih pontang panting atau kere, pasti dia gak mau dijadikan istri kedua lelaki itu
"Kalau aku bilang ke suami gini;
"Dilarang poligami kalau gak mau get out of this house
."
"Ini semua gara2 Nur Aini, minta digibeng ma cewek2 tangguh yg bernama istri plus ibu, hehehe..." 
"Perempuan model Nur Aini harus ngerasain jadi istri pertama dulu. Trus, setelah itu suaminya minta poligami. Nah, gimana tuh reaksi? *kalau saya mah termasuk istri galak kalau udah urusan beginian
"Hahaha! Terserah mba nur aini sajalah,,, pilih yg gimana, kalopun tetap memilih d poligami yo wess monggo,,, yg penting jangan suami sayah! ahahahahaha,,,"
Saya juga sempat terpancing seperti itu. Bahkan saya menuliskan status di profil WA dan BBM: 
"Ups ... Jangankan yg jomblo, yg SEDANG bersuami sj TERUS TERANG minta dipoligami sama pria yg sdh jelas beranak dan beristeri #statusmakComblangGagalProspek ;)" 
Mengapa saya membuat status seperti itu di profil blackberry messenger saya? Karena memang demikian adanya. Ada seorang wanita, Account Officer Bank Mutiara (JTrust Bank) Cabang Citraland, Ciputra, Surabaya, yang berinisial DS, yang adalah isteri seorang dokter umum di sebuah RS di Jember dengan inisial AS, meminta seorang lelaki yang sudah beranak dan beristeri agar si lelaki ini menjadikannya isteri kedua. Padahal si Lelaki tersebut telah berumah tangga dengan isterinya selama 19 tahun (Kisah legkapnya bisa dibaca di sini: Mrs. 25 Million Rupiahs).

Tetapiiii, setelah saya baca-baca, kok sepertinya itu adalah status orang yang mak comblangin si perempuan jomblo dengan lelaki yang sudah beristeri, tetapi lelaki itu menolak, sehingga si mak comblang yang bisa jadi sudah dibayar mahal oleh si jomblo itu dihujat oleh si jombol Jadilah keluar status emosional kayak gitu. Baca saja bahasanya..... Itulah maka di status saya saya tambahkan hashtag #statusmakComblangGagalProspek.
Masalah mak comblang gagal, ini juga ada mak comblang yang gagal, dan bahkan sudah menyakiti orang yang sudah menolongnya. Baca di sini ya: Hikayat si Madun Tua.